Marhaban Ya Ramadhan 1439 H

Marhaban Ya Ramadhan 1439 H – Tidak terasa kini sudah memasuki awal shalat tarawih yang pertama di bulan suci ramadhan 1439 H atau pada tanggal 16-5-2018. Bulan Ramadhan merupakan salah satu nikmat yang amat agung yang diberikan kepada umat Islam buat memperoleh ampunan serta rahmat Allah SWT. Di bulan Ramadhan seseorang memerlukan bekal intelektual serta pengetahuan yang cukup buat dapat menjadi orang yang bershaum sebenarnya supaya bukan sekadar menahan lapar serta haus. Jangan sampai memasuki bulan Ramadhan dalam kondisi belum membaca bab fikih shaum. Disamping itu, seseorang juga memerlukan kecerdasan emosional yang memadai buat tetap bisa berjiwa seimbang walau dalam keadaan lapar serta tidak kuat.

Marhaban Ya Ramadhan 1439 H

Marhaban Ya Ramadhan 1439 H

Hasil Sidang Isbat, Menteri Agama Putuskan Awal Puasa Ramadhan Jatuh Pada Hari Kamis, 17 Mei 2018

1 Ramadhan 1439 Hijriah seperti yang ditetapkan oleh Pemerintah jatuh pada hari Kamis (17/5/2018). Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kementerian Agama menetapkan pada sidang isbat yang dipimpinnya. “kata Lukman, saat memberikan keterangan pers berkata bahwa: Kami tetapkan 1 Ramadahan 1439 Hijriah jatuh pada Kamis, 17 Mei 2018″.

Kesepakatan sidang isbat dibuat berdasarkan dua hal, yaitu perhitungan hisab dan laporan petugas tersumpah di lapangan yang melihat hilal dari 95 titik, demikian dituturkannya. Maka umat Islam di Indonesia mulai malam ini akan melakukan shalat tarawih pada Rabu (16/5/2017) berdasarkan penetapan awal puasa ini.

Lalu puasa pertama dilakukan pada Kamis 17/5/2018. Instansi terkait dalam mengambil keputusan merupakan wujud kebersamaan Kementerian Agama selaku pemerintah dengan ormas Islam dalam sidang isbat ini.Penetapan ini dilakukan setelah peserta sidang isbat mendengarkan pemaparan tim hisab dan berdasarkan posisi hilal pada selasa sore kemarin seperti yang dituturkan oleh  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Tim Kementerian Agama di 95 titik yang tersebar di seluruh Indonesia melakukan pemantauan hilal, dimana Posisi hilal di seluruh Indonesia masih di bawah ufuk seperti yang dikatakan pada konferensi pers di Kemenag Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada hari Selasa.

Ada 32 laporan yang masuk ke Kemenag dari 95 titik pengamatan hilal tersebut berada di posisi antara 0 derajat 2 menit hingga 1 derajat 36 menit. Maka berdasarkan perhitungan tersebut posisi itu masih belum dapat memperlihatkan adanya hilal atau bulan baru. Ucap Lukman, “Dari 32 pelaku rukyatul hilal, tidak ada satu pun yang melihat hilal,” maka Kemenag pun sepakat untuk menggenapkan Syaban menjadi 30 hari.

Dikarenakan tidak terlihatnya hilal tersebut. Dengan demikian, Awal Bulan Ramadhan 1439 H dimulai pada Kamis besok, Kamis 17 Mei 2018.

Sidang kali ini dihadiri oleh sejumlah pihak, baik dari para duta besar negara-negara sahabat, Pimpinan Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Selain itu, Kemenag juga mengundang, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama; dan Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.

Sementara itu, Menurut ahli, awal bulan puasa 2018/1439 H dan hari lebaran bisa dirayakan secara bersamaan dan berlanjut hingga tahun 2021/1442 H. Menurut Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah di Indonesia  seragam hingga 2021 atau 1442 H.

“Hal ini disebabkan posisi bulan bukan berada di 0 derajat menurut kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah dan 2 derajat menurut kriteria Nahdlatul Ulama. kata Thomas, Tinggi bulan hari ini masih negatif (sudah di bawah ufuk), jadi bulan Sya’ban digenapkan 30 hari sehingga awal bulan Ramdhan jatuh pada 17 Mei 2018.

Hal senada diungkapkan Sugeng Riyadi, Kepala Pusat Astronomi Ponpes Assalam, Kartasura. Menurutnya, Indonesia diuntungkan dengan posisi bulan. Posisi bulan pada awal Ramadhan 1439 H ini, masih di bawah 2 derajat di markas Pos operasi bulan di Pelabuhanratu, Sukabumi, bahkan di Jogja masih negatif. Sehingga, akhir Sya’ban versi Pemerintah, Muhammafiyah, NU, Persis dan ormas besar lainnya dipastikan akan Istikmal (digenapkan), dan hari Kamis 17 Mei masuk bulan 1 Ramadhan.

Marhaban ya Ramadhan 1439 H (17-5-2018)

Kata “marhaban” di sebagian kamus yang penulis baca diartikan sebagai penghormatan dalam menyambut tamu yang akan datang (juga diartikan selamta datang). Kata ini bahkan disamakan dengan ahlan wa sahlan yang mempunyai arti mirip. walau di kedua kata ini mempunyai arti survive datang.

Kata Marhaban berasal dari kat rahb, atau dalam bahasa indonesia bermakna “luas” serta “lapang”, Perihal ini tunjukkan jikalau tamu yang akan kita sambut memilik kemuliaan, dimana kita sesegera mungkin dalam kondisi lapang serta bahagia. disamping itu, kita sesegera mungkin mempersiapkan segala perihal yang akan dikerjakan nantinya. Dari kata ini juga lahir kata rahbat, bermakna sesuatu ruang yang luas buat dikendarai.

Perihal ini dimaksudkan jikalau kita akan menemukan sesuatu ruangan luas yang nantinya kita gunakan dalam menemukan segala kebaikan buat melanjutkan trip selanjutnya (setelah bulan ramadhan). Dari urain tersebut, pengucapan Marhaban Ya Ramadhan dimaksudkan sebagai ucapan kepada bulan ramadhan.

Atau sesuatu penantian dengan penuh kesenangan, mempunyai hati yang selalu dalam kondisi lapang, dengan beragam persiapan yang matang. Shingga bisa di simpulkan jikalau kata “marhaban ya ramadhan” merupakan kendaraan yang akan mengasah diri kita buat melanjutkan trip yang tertunda. Adanya gunung yang tinggi yang sesegera mungkin ditelusuri fungsi menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu adanya lereng yang curam, belukar yang lebat, bahka;n banyak perampok yang mengancam, dan iblis yang merayu, supaya trip tak melanjutkan.

Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat threat serta rayuan, makin curam serta ganas pula trip. Tetapi, jika tekad tetap membaja, sejenak lagi akan tampak cahaya benderang, serta saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat indah buat berteduh, dan telaga-telaga jernih buat melepaskan dahaga.  Jika trip dilanjutkan akan diciptakan kendaraan Ar-Rahman buat mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt.

Demikian kurang lebih trip itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin. Jelas saja kita butuh mempersiapkan bekal fungsi mencari jalan itu. Kenalkah Anda apa bekal itu? Benih-benih kebajikan yang sesegera mungkin kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja buat memerangi nafsu, supaya kita dapat menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat serta tadarus, dan siangnya dengan ibadah kepada Allah melewati pengabdian buat agama, bangsa serta negara. Semoga kita berhasil, serta buat itu mari kita buka lembaran Al-Quran menyidik jauh kaya gimana tuntunannya, Marhaban Ya Ramadhan 1439 H.

Nilai Kualitas Konten